Jun
18
2013

BAYI SEHAT

     Kadang (kebanyakan dari) kita sering menilai diri sendiri lebih buruk dari semestinya. Suka nggak percaya diri dengan kemampuan sendiri. Efeknya jadi nggak berani mengejar mimpi yang terlalu besar. Sedih, ya :(

     Inget nggak, cara berpikir kita waktu masih kecil? Atau coba perhatikan tingkah laku bayi hingga batita. Bebas dan berani melakukan dan mencoba apa saja tanpa ada ketakutan-ketakutan akan salah, gagal, sakit, kecewa, dibilang jelek dan sebagainya. Saat belajar merangkak, nggak ada ketakutan bakal jatuh/keseleo/kepala kejedot kaki meja/telapak tangan menggencet kecoak di lantai sampai putih-putihnya berceceran. *Oke. Ini berlebihan* *Yuck!* #hiraukan. Paling kalau sakit karena jatuh atau kepentok furniture, nangis sebentar, kemudian mencoba lagi. Kenapa? Karena pikiran yang masih sangat polos, bersih dari kontaminasi kenegatifan dunia. Semua murni dari kehendak sendiri tanpa memikirkan hasil akhir. Nekat. Babies are fierce! \m/

     Makin dewasa dan makin mengenal dunia, akan makin banyak input negatif dari lingkungan sekitar yang pelan-pelan menyuntikkan kata-kata “Enggak boleh!”, “Enggak bisa!”, “Jangan!” ke dalam pikiran kita. Sama persis kayak kata-kata mama papa pada saat kita mencorat-coret tembok dengan spidol warna-warni, dulu waktu kita masih kecil. Kebanyakan mengangguk setuju meng-iya-kan tanpa saringan pikiran-sepolos-bayi berefek menumbuhkan rasa nggak percaya diri, ragu dan takut mencoba, serta fobia akan kegagalan. Padahal biasanya mimpi baru terwujud setelah melewati beberapa kegagalan. Dalam menghadapi hidup yang banyak banget pengaruh negatif dari luar, kadang kita perlu memandang dunia dari mata, hati dan pikiran sejernih bayi sehat: positif, bersih, tulus dan jujur.

———

Everything happens for a reason.

     Mau sharing aja (dan pamer dikit deh :P). Jaman SMA, ikutan audisi paduan suara ternama di antara puluhan kakak-kakak anak kuliahan. Datang ke tempat audisi paling pertama dan paling semangat. Selesai nyanyi live di depan 4 orang ahli choir dan musik klasik, feedback dari mereka sangat menyakitkan. Terutama mungkin karena gue nyanyi lagu The Beatles di antara para penyanyi musikal dan klasik. Masih bodoh dan baru ngeh kalau cengkok pop di dalam audisi choir tersebut is a no-no, walau masih di dalam tahap audisi nyanyi sendiri. (Maklum, terakhir kali ikut paduan suara pas masih SD, and it was a fun children choir. Bukan tipikal choir klasik serius yang mulutnya harus monyong-monyong dengan ekspresi mata melotot. Bener-bener paduan suara dengan spirit anak-anak, tapi bisa diadu kemampuan teknik dan baca not-nya per individu). Pulang ke rumah dengan hati hancur, nangis. Lalu bertekad mau jadi penyanyi solo aja. Akhirnya, malah lebih luas pekerjaan dan pengalamannya. Gaji (dan spotlight) gak perlu dibagi 40 orang kayak di choir :). Dan udah bisa bayar kuliah sendiri dari berbagai pekerjaan menyanyi solo.

Contoh lain saat mengikuti Indonesian Idol. OK, gue gagal masuk spektakuler karena grogi-minta-ampun (yang akhirnya nyanyinya jadi fales-minta-ampun). Dan sedihnya bukan main karena dari 4 cowok roommate di tempat karantina 24 besar, cuma gue yang failed. Tapi dari ajang itu, gue ketemu dan kenalan dengan Mas Yovie Widianto (as one of the judge) dan Mas Andi Rianto (as music director), yang selanjutnya menjelma jadi mas-mas boss yang mempekerjakan gue di dunia pernyanyian. Kalau nggak ngerasain sakitnya gagal, gue gak akan pernah ngerasain bisa nyanyi sepanggung sama Kahitna #pamerterselubung. Atau jadi Trending Topic di Twitter bareng Magenta Singers di Harmoni #pamerterpampangnyata. :)

Jadi sekarang, saat menemui kegagalan, atau mengalami hal yang paling tak diharapkan, gue langsung flashback aja ke masa-masa itu. Satu pintu tertutup, pintu yang lain terbuka. Mungkin juga pintu yang kita ketuk, sebetulnya salah alamat. (Dua kalimat terakhir ini kayaknya bisa diaplikasikan buat masalah cari jodoh. #tetep). Intinya, pantang menyerah ala D’Masiv (nyanyi: Jangan menyeraaah… jangan menyera-a-a-a-aah…), pantang mundur ala Titik Puspa (nyanyi: Terusss… Majuu.. Pantaang munduuurr…) dan pantang takut gagal ala bayi sehat. Walau udah kerja keras berusaha sekuat tenaga tapi masih di situ-situ aja, yah sabar dan bersyukur aja. Yang penting kan tak berjalan mundur. Mungkin belum rezeki. Merangkak kepentok kaki meja bukan berarti dunia berakhir. Biar merangkaknya pelan-pelan, semangat harus tetap ngejegér! Hidup bayi sehat!

\m/

image

———

*Ditulis berdasarkan beberapa request dari teman-teman @pungkylism di twitter tentang sekelumit pengalaman jaman dulu di dunia pernyanyian (mengalahkan permintaan artikel tentang cinta-bertepuk-sebelah-tangan. Hidup udah susah jangan dibuat lebih galau dong ah :P). Anyway, makasih ya ide-ide-nya :)

May
22
2013

Que Sera Sera

     Lagi iseng menyusuri my timeline di Path. 1 bulan… 2 bulan… sampai 3 bulan yang lalu (Ini sih niat, bukan iseng!)…dan kemudian nemu posting-an ini:

image

Dan gue terharu (lagi). Tapi kali ini sambil merenung.

     Gue. Dulu nge-fans berat sama Kahitna. Terus suka nonton live konser-konser Kahitna. Lalu naik pangkat jadi backing vocal Kahitna. Dan sekarang jadi member grup vokal yang tergabung dalam management yang sama dengan Kahitna. Siapa yang pernah tau sih? Seorang gue yang di masa sekolahnya dulu adalah seorang kutu buku minderan yang ceking-cungkring, jerawatan, berkaca-mata tebal dan berambut polem? Dreams do come true. *cubit diri sendiri*

MOTS: A Dream is a wish your heart makes. Bermimpilah sebanyak-banyaknya dari hati yang paling dalam. Fokus dan bersyukur pada kelebihan-kelebihan kita. Berusaha dan pantang menyerah dengan segenap kemampuan. Karena kita nggak akan pernah tau ada kejutan apa di masa depan. Will I be rich? (AMIN!), will I be successful? (AMIN!). I don’t know yet. Que sera sera, what will be, will be. Yang penting happy dan sejalan dengan hati. Selanjutnya, terserah Tuhan. AMIN! :)

May
16
2013

You Can Run, But You Can’t Hide (From Your Ex)* **

*baca jg artikel sebelumnya “Case of The Ex”
**catet: ini bukan tentang saya, tapi berdasarkan curhatan teman2. #pentingbanget

      Derita putus paling menderita adalah saat kita (tak punya pilihan selain) harus putus dengan seseorang setelah bertahun-tahun pacaran. Kenapa paling menderita? Karena penderitaan belum berhenti sampai di situ. Masih banyak yang harus dibenahi dan dihadapi lagi, saudara-saudara!


      Semakin panjang durasinya, akan semakin banyak pula nostalgia-masa-berpacaran (*dipopulerkan oleh Onna Sutra #dangdut tahun 90an. Tarek, mang!). Tempat kencan, resto, cafe, bioskop, jalan, makanan, lagu, film, hadiah, sampai pertemanan, semua mengingatkan kenangan2 indah pacaran. Gimana mau cepat move on kalau semua berhubungan sama mantan? Pernah mengalami yang kayak gini?

      Saat yang bikin gemes dan lemes kayak gini adalah saatnya kita harus memaksa diri untuk berpikir realistis. Waktunya untuk sejenak melupakan Agnes Monica yang bilang “Cinta ini kadang-kadang tak ada logika”. Karena cintanya sudah lewat, kini saatnya mulai berpikir dengan logika. Ngomong sama diri sendiri: dunia kecil - 1000x tiap hari. Yes, it’s a small world after all. Percaya deh, makin kita menghindar, ke mana dan di mana pun pergi, the universe akan makin sengaja menjejali kita dengan kebetulan2 yang mengingatkan pada mantan. You can run, but you can’t hide.

    

     Santai aja lah. Bukan kamu sendiri kok yang mengalami. Mantan kamu pun. Cuma dalam fase ini, telen bulet2 aja semua, gak perlu konfirmasi nanya ke mantan if they feel the same. Atau masa move on akan jadi jauh lebih bertele-tele.


Butuh waktu buat melupakan?
Boleh. Take your time. Tapi inget, jangan kelamaan. Dan inget lagi, gak ada waktu buat drama, atau mendramatisir segala kebetulan yang terjadi. Don’t torture yourself with your past, walau (pernah) seindah apapun. Saat dalam fase broken heart yang terlalu didramatisir, kadang kita nggak sadar mata kita tertutup akan segala kesempatan baik (baca: calon pacar baru) yang datang karena kita terlalu manja dengan kenangan masa lalu. Belum siap untuk membuka hati lagi sih wajar, tapi bukan berarti menutup diri dari dunia. Cepat-cepat tip-ex kata ‘galau’ dan ‘sumo’ (susah move on) dari kamus, karena it’s soooooo last year. 

 

     Hidup cuma sekali, bro. Contoh lebay, nggak perlu tiba-tiba menghindar dari geng pertemanan yang asik (unshare sahabat mantan dari Path, unfollow geng mantan dari Twitter, atau memutuskan tali silaturrahmi dengan mereka semua di dunia nyata), galau saat dengerin musik kesukaan (mual-mual saat liat muka Beyonce, karena beliau penyanyi favorit mantan, atau pahanya sebesar paha mantan), berhenti makan enak (berubah jadi vegetarian, karena tiap liat daging teringat mantan lagi makan all-you-can-eat di Hanamasa), males nonton film (membenci Katherine Heigl dan berhenti nonton film bertema romantic comedy, karena itu genre film yang selalu ditonton bareng sambil pegangan tangan sama si mantan), menjauhi tempat hang-out favorit (takut ketemu mantan di situ, berefek kamu berkurang kadar ke-keren-an dengan end-up nongkrong di tempat2 yang kurang hip) dan sebagainya. Coba, berapa kesenangan sudah dikorbankan demi masa lalu? Biar move on-nya cepet, face it, embrace it, never hide from it, karena itu nggak worth it.

 

     image

 

     Maafkan jika agak menggurui, tapi percaya deh, pengalaman adalah guru yang terbaik (ganti kata ‘pengalaman’ dengan ‘mantan’). Menghindar berarti nggak belajar (baca: lari dari kenyataan). Learn from the past, not drowning yourself to the past. Say no to drama, and say yes to the new exciting journey of love! :)

 




 

May
5
2013

Mirror Mirror On The Wall

     Cermin. Saat kamu menatap cermin, apa yang terlihat? Refleksi dirimu sendiri (ya masak bayangan tetangga kamu… -__-‘). Ah, ada jerawat kecil di hidung. Salah satu yang langsung timbul di pikiran saat itu: “Ah, pasti gara-gara kebanyakan makan kacang!”. Reaksi pikiran dadakan ini biasanya berupa tentang faktor-faktor penyebab (“gara2 makan makanan berlemak”, “kurang tidur”, “stress karena baru putus”, etc.), lalu kemudian dilanjutkan dengan efek selanjutnya, kayak “Sial, kenapa harus jerawatan pas gue mau foto paspor?”. Terakhir, otak kita akan bereaksi memproses sebuah kongklusi. What’s next? Selanjutnya ngapain? “Gue nggak akan lupa cuci muka lagi sebelum tidur”, “Nanti beli obat jerawat ah”, “Bodo, ntar juga ilang sendiri”, sampai “Tutupin aja pake concealer!”. Tiap orang pasti punya reaksi yang berbeda-beda.

    

      Sayangnya, bercermin melihat perbuatan diri sendiri atau introspeksi itu sejatinya tak semudah bercermin mempelajari jerawat kecil yang tiba-tiba nongol di hidung. High ego dan low self-esteem kadang menutupi pikiran kita untuk bisa bijaksana dalam melalui sebuah proses bercermin diri. Ego yang too much ini biasanya membuat benteng defensif yang bukannya membuat kita sadar diri, malah jadi mencari kambing hitam, menyalahkan orang lain, ataupun keadaan. Sebaliknya low self-esteem malah bikin kita jadi galau berlebihan karena terlalu menyalahkan diri sendiri. Jatuhnya malah jadi ajang lempar-lemparan bumerang kesalahan.

 

     Idealnya sih, seharusnya malah tak ada unsur salah-salahan di dalam sebuah introspeksi. Justru kata-kata ‘menerima’ dan ‘memaafkan’ dan ‘ikhlas’ yang harus diberi huruf kapital dalam introspeksi. MENERIMA keadaan akan batas kemampuan diri sendiri, MEMAAFKAN kesalahan diri sendiri (bila memang salah), IKHLAS terhadap efek yang sudah terjadi. Lebih sempurna lagi kalau in the end timbul niatan positif sebagai suatu pembelajaran untuk membuat keadaan selanjutnya jadi lebih baik. Eh, serius amat sih nih, mas. *brb* *bersihin kaca mata*

 

     Contoh gampang. Buat cewek yang suka dandan. Coba, feedback mana yang lebih enak? “Cantiknya!” atau “Mo kondangan, neng?” atau “Eee Buset!” atau “Hiiiiiiiii….*ekspresi jijik*!”? …Hmmmm… Jangan lantas nyambit sandal jepit ke orang2 yang kasih komentar nggak enak… Hahaha… Sabaaaar, kak… Mari ngaca dulu, kaaak, apa betul ada yang salah?

 

     Di sinilah fungsi bercermin. Untuk tau pengaruh ke-menor-an kita. Untuk lebih mengerti cara memproses sebuah hubungan antara diri sendiri dan reaksi dunia di sekitar kita. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial yang tak akan pernah hidup sendiri. Memang kita tak seharusnya 100% mendengar opini orang lain, namun untuk sebuah masukan dan kritik positif yang bermaksud untuk sebuah kebaikan, why not? Sadar nggak, kadang kita terlalu merasa angkuh untuk menerima sebuah kritikan, hingga melewatkan banyak ide baik di dalamnya? Dengan bercermin, kita akan sadar kalau enggak semua kritik negatif berarti negatif.

 

     The point is, kita boleh berteriak lantang dengan pede-nya: “I AM WHAT I AM!!!”, tapi bukan berarti you don’t care about the world around you.

 

     Yuk, mulai bersahabat dengan cermin. Sering bercermin (atas nama introspeksi) berefek membuat kita lebih peka dan lebih mengenal diri sendiri. Lebih mengenal diri sendiri berefek membuat kita akan lebih menerima diri sendiri. Dijamin lebih jarang galau! Kalau begitu, mari ngaca berjamaah demi ketenangan batin dan kehidupan sosial yang lebih harmonis! :)

PS: Dipersembahkan untuk orang-orang paling defensif di seluruh dunia. Semoga mendapat pencerahan. Amin.

Jan
9
2013

– View on Path.

– View on Path.

Jan
8
2013

Nice words. #repath from Nasta with Nasta – View on Path.

Nice words. #repath from Nasta with Nasta – View on Path.

Nov
14
2012

"Enggak Apa-Apa…"

Tak terhitung sampai usia segini sudah berapa ratus juta kali rangkaian kata sederhana ini keluar dari mulut. Saat pertama kali terjatuh dari sepeda, menahan perih luka, tapi malu nangis. Saat ikut lomba nyanyi, lalu gagal juara. Saat kepedean memilih SMA unggulan, ternyata tak diterima. Saat berjam-jam nungguin dosen buat asistensi, ternyata tak datang ke kampus. Saat diare parah saat harus ikut tour 3 hari yang padat jadwalnya. Saat menyesal beli barang yang kemahalan. Saat dibohongi sahabat. Saat direndahkan rekan sejawat. Saat ditolak. Saat diselingkuhi. Saat diputusin via BBM. “Enggak apa-apa.”

Pernah sekalinya kelepasan (karena dipancing segerombolan teman2 superkepo), benteng pertahanan emosi berlebih pun jebol sudah, keluarlah kalimat2 emosional-tak rasional nan panjang dan tak bijaksana. Senjata makan tuan. Kok kesannya gue pengen banget dukungan moral dengan merendahkan diri sebagai victim yah? Akhirnya menyesali sendiri kenapa tadi enggak dijawab manis dengan “Enggak apa-apa”. I felt like a pathetic psychotic that day. Sejak hari itu, gue cenderung untuk bilang “Enggak apa-apa” setiap ada yang kepo. Kecuali emang yakin bisa kontrol emosi untuk sebuah cerita yang penuh dengan emosi. Dan itu pun hanya dengan super-close-friends.

"Enggak apa-apa" sejujurnya menutupi rasa sesal, malu, sakit, sedih sampai amarah dan dendam. Di balik "Enggak apa-apa" yang tak beremosi itu SEJUJUR-JUJURNYA ada kalimat penuh emosi kayak "Why God why?", "I hate you", "F*ck you!", “…..*nangis sesenggukan*”, sampai “AAAARGHHH! *lempar BB*”, yang tak pernah terucapkan. Singkatnya, sebetulnya banyak drama di balik “Enggak apa-apa”. Namanya juga manusia.

Memang lebih baik jujur dan mengungkapkan isi hati dibanding disimpan. Tapi liat timing dan situasi juga, ada fungsinya dan worth it, nggak? Menurut gue sih lebih baik bilang “Enggak apa-apa” dibanding sumpah-serapah. Lebih baik bilang “Enggak apa-apa” daripada teriak2: "I curse the day you were born!". Lebih baik bilang “Enggak apa-apa” daripada balik menanyakan pertanyaan2 desperate untuk seseorang yang sudah jelas not into you anymore. Manusiawi banget sih sebetulnya untuk emosional. Namun ada kalanya we speak our mind, ada kalanya pula kita lebih baik menelan bulat-bulat segala keadaan yang gak enak dengan “Enggak apa-apa”. Dalam hal ini, pinter-pinterlah liat sikon.

"Enggak apa-apa" yang sempurna adalah yang emang artinya juga "Enggak apa-apa". Ikhlas. Bersih. Clean from other negative emotions. Emang gak semudah diketik sih. Gue pun jujur masih amatir soal kontrol emosi. Kalo “Enggak apa-apa” versi Pungkylism sekarang itu artinya: “Gue sih tenang. Santaaai kayak di pantaaai, slowww kayak di pulowww. No grudge. No hurt feelings. No problemo. Semua ada karmanya. Biar nanti Tuhan yang bales!”. Hahaha. Jangan ditiru! Ini contoh yang gagal banget ikhlasnya :). Yah enggak apa-apa yaaa… sekali lagi, namanya juga manusia (yang lagi belajar ikhlas)…. :P

May
31
2012

EMBER

Ember mengandung banyak arti, seperti:

  1. Benda yang berfungsi sebagai tempat menampung air. Biasanya terbuat dari plastik, kayu ataupun metal (kaleng, seng, aluminium). Bentuknya silinder vertikal-gendut-pendek dengan sisi bawah tertutup dan sisi atas terbuka, dengan pegangan setengah lingkaran untuk mengangkat. Bisa juga digunakan sebagai tempat memuat cat, pasir dan bahan makanan. Contoh kalimat: “Ibu menyiram Udin yang masih nyenyak terlelap dengan seember air dingin”
  2. Bahasa ‘gaul’ untuk ‘Emang’ (Memang). Menurut asumsi, penggunaannya diawali oleh para kapster salon. Sekarang sering digunakan di antara pergaulan anak muda ibu kota. Biasanya hanya digunakan dalam kalimat jawaban atau penegasan. Kadang juga disingkat jadi ‘Em’, ‘Eim’ atau ‘Embi’. Contoh kalimat: | A: “Si Charlie idungnya kayak operasi yah” | B: “Ember!" |
  3. Bahasa Inggris dari bara api. Contoh kalimat : "Your love is glowing like an ember in my heart”
  4. Bahasa prokem untuk menyebut seseorang yang tak bisa menjaga rahasia/penyebar gossip yang seharusnya berupa rahasia. Contoh kalimat: “Jangan kasih tau dia yah, mulutnya kayak ember

Sekarang mari fokus ke nomor 4 dan sejenak lupakan arti ember yang lain.
Betapa kesalnya jika orang yang kita percaya untuk mendengarkan keluh-kesah dan rahasia kita ternyata terbukti bermulut ember.

Contoh kasus ember: Suatu hari kamu cerita ke 1 orang kalo kamu panuan. Tiba-tiba 1 kompleks tau kalau kamu panuan. Yes, you’ve been ember’d!


Sebentar, kenapa sih disebut ember? Ini analogi sederhana menurut gue:

  • Ember dalam artian penampung air mempunyai sifat yang mudah bocor, seperti halnya rahasia yang bocor dari mulut seseorang.
  • Ember itu bagian atasnya terbuka lebar, seperti halnya mulut besar seseorang yang tak bisa menyimpan rahasia.


Manusia itu sangat sosial. Semua orang pasti butuh seseorang lain. Salah satunya ya itu tadi. To share, to talk to and to be listened. Mungkin sel-sel di otak kita sudah dirancang sedemikian rupa untuk menyimpan segala macam cerita hidup. Tapi ibarat gunung, magma yang tersimpan menggelegak panas di dalamnya tanpa pernah keluar, akhirnya meletus, menghancurkan daerah di sekitarnya. Sama aja kayak pikiran. Curhat itu kebutuhan-anti-stress. Gak sehat, bro, kalo nggak pernah dikeluarin. #ambigu

Sebetulnya gue nulis artikel ini menurut pandangan pengalaman pribadi. Khusus buat tipikal orang semacam gue: ekstrovert, mudah percaya, friendly, naif (dulu naif, sekarang suka ngerjain orang naif) dengan kebutuhan curhat yang sangat tinggi (plus manis dan baik hati :P ). Jadi buat yang introvert, yang terbiasa curhat dengan dear diary, boleh langsung skip :)

Bagaimana cara memilih teman curhat yang tidak ember? Di bawah ini, ciri-ciri si pengidap emberisme. Tidak mutlak sih, tapi bisa jadi acuan untuk waspada. Beware, saudara-saudara!

  1. Dia sering menceritakan aib pribadi orang lain dengan akhir kalimat: “Eh, tapi jangan kasih tau siapa-siapa lagi yah. Rahasia nih”. Aih. Kalimat yang ironis.
  2. Orang-orang yang hobi curhat hal-hal personal yang terlalu detail. Saking detailnya, curhatan kita bisa dicurhatin juga ke orang lain.
  3. Orang yang terlalu naif. Kadang kelepasan cerita tanpa disadari, walau tanpa maksud.
  4. Social climber pengidap pencari perhatian akut. These kind of people bahkan mungkin rela menjual jiwa dan jati dirinya sendiri demi mendapatkan spotlight.
  5. Tukang gossip. Sudah jelaslah kalau yang ini.
  6. Pendendam temperamental. Hati-hati apa yang bisa keluar dari mulutnya saat ia murka dengan penuh kebencian.
  7. Pemabuk parah. Saat tidak sadar, orang akan bicara apa saja tanpa kendali.
  8. Si muka dua. Orang-orang yang terlihat di kesehariannya suka memuji di depan, namun menghina di belakang, walaupun obyeknya bukan tentang kamu.


Berhati-hatilah saat kita masuk dalam komunitas baru. Tidak semua yang terlihat manis, memang sungguh berhati seperti gula-gula. Jomblo yang baru nge-date? Se-excited apapun kamu, NEVER share about personal stuff on your first date. Just keep it beneath the surface.


Bagaimana kalau diri kita sendiri yang mempunyai kecenderungan ember? Just think before you talk. Pilah-pilih hal-hal mana yang senonoh dibicarakan atau enggak. Selain ingat karma, posisikan juga diri kita sebagai the ember victim. Hindari ember yang berefek memecah-belah persahabatan, mengadu domba, penyampaian berita yang dibumbui dan belum jelas kebenarannya. Telaah dulu baik-baik jenis cerita yang mau di-ember-kan. Kalau si pencurhat/penyampai cerita bilang itu rahasia, ya biarkanlah jadi rahasia. Think about the trust they give us to keep their secrets. T-R-U-S-T. Priceless.


Last words, semoga tulisan ini bisa jadi rem buat kontrol mulut (buat yang dipercaya menyimpan banyak rahasia teman-temannya), dan bisa menguatkan sinyal ‘BerDar’-Ember Radar (buat yang punya hobi curhat masalah pribadi, termasuk panuan tadi). Amin.



PS: Buat yang sudah di-cap ember akut, saat semua orang seakan melihat tulisan ‘ember’ tattooed on your forehead. Amit-amit ah. Bertobatlah, hai teman. Mendingan juga tato petir di jidat. Iya, nggak?. “ExpelliEmber!”. Hahaha.



Feb
23
2012

Expressing Love

Tau indahnya jatuh cinta, kan? Buat gue sih it is the  greatest feeling in the world! Walau baru tahap awal suka2-an atau sampai fase mulai timbulnya cinta itu rasanya kayak naik rollercoaster yang terbuat dari coklat Belgia di atas rel pelangi meluncur tinggi melewati awan-awan gulali. Oh that sweet adrenaline rush! Aeh. Lebay. Ya itulah gue saat jatuh cinta. L-e-b-a-y. And I’m pretty sure that I’m not the only one :) (berharap di antara yang baca ada yg teriak-teriak, “Aku juga! Aku juga!”. Amin. Baca: #nyaritemen)


Soal ke-lebay-an saat jatuh cinta ini, sebetulnya berdampak positif buat gue pribadi. Segala sesuatu yang biasanya jadi beban dan bahan keluhan sehari-hari, terasa jadi lebih ringan. Lalu lintas Jakarta yang selalu macet, pekerjaan yang melelahkan, orang-orang yang membetekan, cranky karena lapar atau kurang tidur, seketika terasa biasa saja saat panca indera, otak dan perasaan bersatu memikirkan si obyek jatuh cinta ini. Gue memang keras kepala (dan hati), walau hati udah sempat koyak-koyak diobrak-abrik, dibolak-balik, dipontang-panting oknum-oknum tak bertanggung jawab di jaman dulu, tiap jatuh cinta ya tetap aja seperti kayak pertama kali. Pokoknya love is everything and everything is you. Ahayy!

Walau beberapa teman bilang gue cukup 'underground' saat mulai menyukai seseorang, atau selalu melakukan ‘gerakan diam-diam tapi nafsu, ehh mau’ saat PDKT, tapi saat cinta sudah terbalas -sejujurnya- rasanya ingin semua orang di dunia ini turut merasakan apa yang gue rasakan. Heh heh. Eh tapi nggak juga sih. Masih dalam kategori ja’im juga kok. Paling-paling cuma bisa terlihat dari gombal2 selintas #nomention di media sosial, atau senyum manis sepanjang hari atau dari lahirnya ekstra energi positif yang gak habis2 dalam kegiatan sehari-hari. Efeknya segitu hebatnya, sampai bisa menggantikan beberapa botol dan kaleng caffeine ternama bernama Red Bull saat lagi jatuh cinta. Sadeees.

Seorang teman dekat, perempuan muda nan cantik, pernah cerita,”Gue yah, kalau lagi deket dan suka sama seseorang, kalau ketemu, pokoknya gue harus keliatan flawless, semua dari ujung kaki sampai ujung rambut harus cantik!”. Masih suka senyum sendiri kalau ingat dia tiba-tiba dandan super feminin, dengan rok terusan warna pink, sepatu wedges dan bando kupu2 saat mau nge-date. Dan ketawa cekikikan sendiri waktu dia cerita “Tau nggak sih, masak gue udah dandan cantik kayak gini, tapi dia cuma pake kaos kumel dan sandal jepit? Enggak banget!”. Hahaha. Setelah itu dia kapok blind-date. (Lebih kapok lg sama teman yang jadi blind-date ‘pimp’-nya sih.)

Itu cuma satu contoh dari seribu cara mengekspresikan rasa suka kita ke seseorang. Eh enggak deng, ada sejuta cara, karena pepatah mengatakan jatuh cinta itu berjuta rasanya. Aeh.

Tiap Valentine’s day mungkin terjadi kehebohan pengekspresian cinta besar-besaran di muka bumi ini. Kaum-kaum romantis mengekspresikan cintanya dengan mengirim bunga dan puisi cinta. Yang kaya raya menghadiahi kado mewah bertabur brand ternama. Pastry chef bikin red velvet cupcake berbentuk hati. Petualang kasih tiket getaway liat kunang2 di pedalaman hutan. Penyanyi menyanyikan serenade Maxwell’s ‘Whenever, Wherever, Whatever”. Anak disko bikin party hura-hura dengan dreskod merah/pink. Aduh, ini list yg enggak ada habis2nya. Ah gue sih gak masalah di kasih apa aja. Yang penting kamu yang ngasih. *DUAR!* *confetti bunga-bunga mawar* :D

Bagaimana dengan mengungkapkan cinta secara terang-terangan di muka publik atau yang biasa disebut PDA (Public Display Affection)? Sebetulnya gak ada yang salah sih dengan showing-off your happiness. Kebahagiaan itu kan emang harus disebar dan ditularkan. Kalau cuma selepetan gombalan-kecil-minta-ditanya atau ngetik 'I love you' di status media sosial atau nulis puisi romantis di blog sih ya wajar-wajar aja, selama enggak berlebihan dan pada tempatnya. Namanya juga lagi jatuh cinta. Garis bawah juga, PDA, bukan PDL, Public Display Lust (hohoho :D). Kalau udah mulai ‘kegiatan fisik berbasis nafsu’ yang lebih dari pegangan tangan sih baiknya di-share berdua aja, bukan ke seluruh dunia. You’re not a porn star. Get a room! (Jangan yang jam-jam-an yah. #eh)

Sahabat biasanya adalah orang pertama yang mendengar saat kita jatuh cinta. Bersabar-sabarlah saat topik pembicaraannya itu lagi-itu lagi. “Ah, ini tempat waktu aku pertama kali nge-date”, “ini makanan kesukaannya”, “Aduh lagi kangen banget nih”, “Dia suka potong rambut di sini juga” (Oh…ternyata kapster salon. #salahpengertian). Atau saat sahabatmu sibuk sendiri dengan BB-nya, berbalas pantun cinta via BBM. Haduh *garuk2 tembok*. Memang memuakkan dan membosankan sih. Tapi, yah, that’s what best friends are for, kan? *Senyum-super-tipis*

Buat antar pasangan, buat gue, mengungkapkan perasaan dengan mengatakan kata ‘cinta’ atau ‘sayang’ atau ‘kangen’ itu penting, walau tetap, action speaks louder than words. Buat gue yang sangat mendewakan kejujuran dalam sebuah hubungan, selain eksekusi sejatinya, kata-kata jujur dari hati juga bisa menguatkan perasaan. Kayak ‘siraman rohani’ aja di antara kehidupan, kesibukan dan rutinitas yang melelahkan. Semacam encouragement dan reminder untuk tetap positif bahwa kita dicintai, disayangi, dikangeni. Namun ingat, harus dari hati. Kata-kata tersebut gak akan ada artinya kalau niatnya cuma ingin membahagiakan, tanpa kejujuran dari hati.

Mungkin ada yang berpendapat, kalau kata cinta terlalu diumbar, they will lose their special meaning. Ini jawaban gue "I can guarantee that there’ll be no negative effect dari mengumbar kata cinta yang asalnya 100% dari kejujuran hati. Sekian.”. Saya yang mengaku sebagai hopeless-romantic ini menyatakan bahwa tak akan ada yang sia-sia dari mengatakan kata ‘I love you’ to the loved one. (Jangan samakan kayak baju yang kalau dicuci berkali-kali bakal luntur warnanya dong ah *alis naik satu*)


"Gak masalah siapa yang ngomong duluan sih. Asal ada echo-nya, itu udah lebih dari cukup" :)


Eh tulisan ini cuma opini pribadi yah. Orang-orang yang tak berbakat romantis dan tak se-lebay gue, pasti punya pandangan dan cara sendiri-sendiri dalam mengungkapkan cinta. Apapun caranya, bersyukurlah karena kamu dicintai. :)


PS: Jika ada yang nge-tweet atau ngetik status FB/BBM tentang bahagianya jatuh cinta, janganlah dinyinyirin. Mereka juga sebelumnya pasti sempat pernah melewati fase single atau heartbroken atau galau-tak-menentu kayak kamu juga kok. Be supportive dan be positive! Siapa tau nular, kan? Amin!

PS2: Cari inspirasi how to express your love? Banyak-banyaklah nonton film! Salah satu contoh, Ewan McGregor di ‘Big Fish’ punya cara cliché yang lebay namun ampuh!

Jan
26
2012

"Love breaks the chains
Love aches for every one of us
Love takes the tears and the pain
And then turns it into the beauty that remains"

"Love Is" - Vanessa Williams & Brian McKnight

Posts I like:

See more stuff I like...

 

Theme by Lauren Ashpole